Sudah Ditandatangani, Mendag Ungkap Kendala Perjanjian RCEP

Sudah Ditandatangani, Mendag Ungkap Kendala Perjanjian RCEP

Salah kepala kendala yang dihadapi ialah tingkat kesiapan ekonomi negara peserta.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) telah sah ditandatangani oleh beberapa negara tercatat Indonesia pada hari ini, Minggu (15/11). Ini menandai selesainya rapat yang dimulai pada Mei 2013 tersebut.  

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto membuktikan, perundingan itu menghadapi berbagai uzur. Antara lain perbedaan tingkat kesiapan ekonomi negara peserta RCEP.

“Ini memberikan tantangan terpisah karena ambisi dan sensitivitas yang berbeda antara negara maju, negara berkembang, dan negara kurang  berkembang membuat perundingan sering memanas. Dalam situasi seperti itu, dituntut pemahaman isu secara mendalam, penguasaan seni berunding  secara plurilateral, kesabaran, dan makin sense of humor dari Pemimpin TNC (Trade Negotiating Committee) yang akhirnya mampu mempertahankan jalannya permufakatan secara produktif, ” jelas tempat melalui keterangan resmi, Ahad (15/11).

Ia mengungkapkan, selama bertambah dari delapan tahun berunding, tidak satu kali pun ada negeri yang melakukan walk out . Agus menuturkan, perjanjian RCEP dapat dikatakan sangat komprehensif, meskipun tidak selengkap dan sedalam perjanjian regional lainnya, seperti Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CP-TPP).  

Namun, kata dia, dalam merespons buah ekonomi dari Covid-19, seorang pengkritik ekonomi dari Hinrich Foundation Stephen Olson menyatakan, dalam beberapa tahun ke depan rantai nilai akan cenderung lebih pendek, memanfaatkan kedekatan geografis, dan menghindari rantai poin lintas samudra. Dalam konteks itu, RCEP secara geografis menyatukan Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru akan lebih cepat tumbuh serta menguat dibandingkan CP-TPP atau Perjanjian Trans-Atlantik yang tatkala ini dihentikan perundingannya.

Agus menegaskan, RCEP akan mendorong Indonesia lebih jauh ke dalam rantai pasok global dengan memanfaatkan backward linkage , yaitu memenuhi kebutuhan bahan baku atau bahan penolong yang lebih bersaing dari negara RCEP lainnya. Lulus forward linkage , yakni memasok bahan baku atau bahan penolong ke negara RCEP lainnya.

Dirinya yakin situasi tersebut akan mengubah RCEP menjelma sebuah regional power house . “Indonesia harus menggunakan arah perkembangan ini dengan cepat memperbaiki iklim investasi, mewujudkan kemudahan lalu lintas barang dan kebaikan, meningkatkan daya saing infrastruktur dan suprastruktur ekonomi, dan terus menyidik serta merespons tren konsumen negeri, ” jelas dia.