STEI SEBI Gelar Halal dan Pengajian Bulanan

Pengajian bulanan saat ini membahas budaya wakaf dalam zaman kegemilangan Islam.

REPUBLIKA. CO. ID, DEPOK — Sekolah Mulia Ekonomi Islam SEBI (STEI SEBI) Depok menggelar acara halal bihalal  dan pengajian rutin bulanan civitas akademika STEI SEBI. Acara itu dilaksanakan pada hari Ahad (13/6) dan dilakukan secara virtual.

Dengan garis besar, acara tersebut bertujuan sebagai bentuk silaturahim  antara civitas akademika STEI SEBI dengan orang gelap mahasiswa. Sehingga dapat terjalin komunikasi yang baik antara lembaga kampus dan wali mahasiswanya. Para peserta yang mengikuti acara halal bihalal  dan pengajian bulanan itu adalah segenap dosen serta pengurus yayasan Bina Tsaqofah, juga para mahasiswa, alumni, dan tentunya wali mahasiswa STEI SEBI.

Dalm rangkaian lapisan acara halal bi halal ini juga terdapat kajian yang bertemakan “Budaya Wakaf di Zaman Kegemilangan Islam”. “Dengan memahami sejarah, kita bisa tahu bagaimana karakter ulama pada zaman dahulu memiliki peran penting di dalam perkembangan ilmu pengetahuan,   salah satunya di  bagian ekonomi syariah. Sehingga jangan sampai kita ini melupakan sejarah, karena orang dengan melupakan sejarah itu tercatat orang-orang yang merugi, ” kata Ketua STEI SEBI Dr Sigit Pramono dalam sambutannya seperti dikutip di rlis yang diterima Republika. co. id.

Ia menambahkan, “Semoga    acara semacam ini bisa menguatkan pondasi keimanan kita sebagai seorang Muslim serta mampu memberikan kontribusi yang terbaik dalam menebarkan kebermanfaatan ekonomi syariah dalam memusnahkan kemiskinan”.

Dalam acara tersebut tilikan tentang budaya wakaf di dalam zaman kegemilangan islam di isi oleh Agung Waspodo. Ia merupakan seorang penceramah dan juga pembaca memori dunia Islam. Tema dengan diangkat pada acara itu merupakan bagian dari memori perkembangan wakaf yang tersedia pada zaman kegemilangan Agama islam.

“Sebenarnya konsep wakaf ini pada zaman dahulu dianggap sepotong mata saja, padahal jika wakaf ini mampu dikelola dengan baik dan terorganisir dapat menjadi keuatan pengikut Islam yang sangat gede, ” ujarnya.

Ia juga membaca salah satu penyembab pati runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani adalah karena pengelolaan simpanan wakaf  diserahkan kepada orang-orang yang tidak memiliki keahlian. Mereka  menyelewengkan dana dengan terkumpul demi kepentingan pribadinya. Beliau menambahkan, “Maka benar saja ketika kita  tidak menempatkan orang-orang yang bawel dalam mengurus suatu kesibukan, tidakhanya kerugian yang kita  dapatkan, bahkan lebih sebab itu adalah kehancuran, ” tegas Agung Waspodo.

Ia menambahkan, berbicara tentang wakaf, tak hanya tentang pembangunan masjid saja.   ‘”Namun pula tentang wakaf produktif, wakaf uang dan juga dengan lainnya, ” tuturnya.  

Rencana lain dalam acara legal bi halal virtual dan pengajian rutin ini merupakan penyampaian informasi pencapaian derma Ramadhan yang dikelola sebab Sebi Social Fund (SSF). Aries Hermawan selaku eksekutif SSF terlebih dahulu menghamparkan profil  SSF.

“SSF  merupakan institusi filantropi yang dibentuk dalam tahun 2013, dan sudah mendapat izin resmi dibanding Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk mengelola dana derma pada tahun 2019. SSF  telah mendapatkan pernyataan ‘Wajar’  dari hasil audit dalam tahun 2020, ” jelasnya.

Mencuaikan program-program pengumpulan wakaf yang ada di bulan Ramadhan 1442 H, SSF mampu menghimpun dana lebih daripada 400 juta rupiah. ” Uang tersebut akan digunakan sebagai pengembangan sarana pelajaran dan juga pengembangan fasilitas-fasilitas lain yang dapat memberikan manfaat bagi umat, ” kata Aries Hermawan.