Sejarah Perjalanan Imam Syafii Menuntut Pengetahuan (2-Habis)

Sejarah Perjalanan Imam Syafii Menuntut Pengetahuan (2-Habis)

Imam Syafii kembali lagi ke Baghdad untuk menyebarkan mazhabnya.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Pada 184 H, Imam Syafi’i berangkat ke Iraq untuk diadili oleh Kepemimpinan Harun al-Rasyid atas tuduhan perlawanan terhadap Khilafah Abbasiyah. Namun alhasil beliau dibebaskan atas rekomendasi Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani seorang pengikut terbaik Imam Abu Hanifah dengan pada saat itu menempati letak Qadhi pada pemerintahan Abbasiyah.

Ustadz Teuku Khairul Fazli dalam buku Ushul Fiqih Mazhab Syafi’i yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan, setelah beliau dibebaskan lantaran tuduhan tersebut, beliau berguru kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani mengenai fikih Hanafi atau mazhab Ahlul Ra’yi sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Muhammad bin Hasan pada 189 H, Pemimpin Syafi’I meninggalkan kota Baghdad menuju kota Makkah. Di Makkah dia mengisi kajian fikih dan menyerahkan fatwa di Masjidil Haram. Di saat itulah beliau mulai merintis mazhabnya sendiri yang berbeda secara kedua gurunya, yaitu Imam Malik dan Muhammad bin Hasan.

Pada 195 H, Imam Syafi’i meninggalkan kota Makkah menuju ke Baghdad untuk yang kedua kalinya setelah menetap di Makkah selama enam tahun. Tujuan beliau kembali lagi ke Baghdad untuk mengembangkan dan menyebarluaskan mazhabnya.

Selama berada di Baghdad, beliau berhasil menulis kitab pada bidang Usul Fikih yang berjudul Al-Risalah dan dalam bidang fikih dengan berjudul Al-Hujjah atau yang lebih dikenal dengan mazhab Qadim. Murib-murid dia di Baghdad adalah Imam Ahmad bin Hambal, Abu Tsaur al-Kalbi, Abu Ali al-Karabisi, dan Hasan al-za’farani.

Pada 199 H, Imam Syafi’i berangkat menuju Mesir untuk menyebarluaskan mazhabnya. Pada antara murib beliau selama berada di Mesir adalah Abu Yaqub al-Buwaithi, Ismail al-Muzani, dan Rabi’ al-Muradi.

Ketika beruang di Mesir, Imam Syafi’i penuh merevisi fatwanya dengan fatwa yang baru atau yang lebih dikenal dengan Mazhab Jadid yang dicantumkan dalam kitab beliau yang berjudul al-Umm . Dia menghabiskan masa hidupnya di Mesir hingga beliau wafat pada 204 H.