Sakirin Camii, Masjid Istanbul yang Didesain Perempuan

Sakirin Camii, Masjid Istanbul yang Didesain Perempuan

IHRAM. CO. ID, Sepanjang sejarahnya, Kota Istanbul pada Turki telah memainkan peranan istimewa sebagai jembatan penghubung antara peradaban Eropa dan Asia. Kota yang dulunya bernama Konstatinopel ini memiliki segudang catatan historis tentang langgam budaya bangsa yang pernah mendiaminya.

Tak terkecuali, dasar agama masyarakatnya. Selama lebih sejak 11 abad berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Bizantium (330–1453), tanah air ini telah tumbuh menjadi sentral agama Nasrani yang cukup disegani pada zamannya. Tapi, sejak ditaklukkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih daripada Utsmani yah, 564 tahun suram, kota ini akhir nya berubah menjadi pusat peradaban Islam dengan terkemuka di dunia.

Hari ini, kumandang suara azan dapat didengar di hampir 3. 000 masjid yang tersebar pada setiap sudut Istanbul. Dan sudah men jadi pengetahuan umum kalau sebagian masjid yang ada dalam kota ini punya keunikan & nilai daya tarik masing-masing, indah dilihat dari aspek kesejarahan maupun dari bentuk gaya arsitekturnya.

Salah satu contohnya merupakan Sakirin Camii. Rumah ibadah yang terletak di kawasan Uskudar, Istanbul, ini tercatat sebagai masjid  dengan dirancang oleh perempuan. Masjid tersebut secara resmi dibuka untuk jamaah pada 7 Mei 2009.

Pembangunan Sakirin Camii didedikasi kan untuk almarhumah Semiha Sakir—salah satu tokoh filantropis Turki yang wafat pada 9 September 1998. Perancang masjid itu ada lah Zeynep Fadillioglu, seorang arsitek pe rem puan berkebangsaan Turki yang masih memiliki ikatan keluarga dengan Semiha Sakir.

Lahir dan tumbuh luhur di Istanbul, Zeynep sudah menunjukkan bakat seninya sejak masih muda. Bakat itu semakin terasah tengah ia memutuskan untuk menggeluti negeri desain interior bersama perusahaan kebaikan arsitektur yang ia dirikan di dalam 1995.

Gaya bangun yang diusung Zeynep dalam bermacam-macam proyek yang pernah ditanganinya betul dipengaruhi oleh perpaduan atmosfer modern dan tradisional di kota kelahirannya, Istanbul. Gaya itu pula yang kemudian ia terapkan saat dipercaya mem buat desain interior Sakirin Camii, satu dekade silam. Masjid ini sekaligus menjadi proyek pertamanya untuk rumah ibadah.

Selama proses pembangunan Sakirin Camii berlangsung, Zeynep selalu meminta petunjuk kepada para ulama, sejarawan, dan seniman untuk memastikan hasil rancangannya kelak bisa diterima sebagai tempat ibadah yang layak bagi semua jamaah. “Saya menerima banyak bukti dari para pakar tersebut. Berangkat dari warna, tekstur, hingga bentuk bangunannya. Setiap bagian masjid yang saya rancang lalu disesuaikan dengan tradisi yang berlaku di Istanbul, ” ungkap Zeynep, seperti dilansir laman Mvslim. com, belum lama ini.

Jika dipandang dari luar, tampilan Sakirin Camii yang mengilap dan didominasi sebab warna abu-abu me talik bisa memberi kesan modern dari ragam arsi tek tur kontemporer. Tatkala, di bagian dalam mas jid ini, pengunjung atau jamaah bisa merasakan ken talnya nuansa tradisional lewat desain interiornya yang menjarah. Mulai dari kubah yang tumbuh, lampu gan tung yang menjuntai dengan api, ukiran-ukiran lo gam yang rumit di dindingnya, tenggat susunan kali grafi Islam yang indah di beberapa bagian ruangnya. Cincin lampu gantung di Sakirin Camii dihiasi dengan 99 nama Allah (Asma al-Hus na) di dalam abjad Arab. Sementara, sejumlah jendela besar yang terdapat di tebal telinga masjid ini dirancang sedemikian rupa menyerupai halaman mushaf Alquran.

Sakirin Camii boleh dibilang sebagai satu diantara mahakarya arsitektur Islam saat ini. Perpaduan yang menarik dari bu daya masa awut-awutan dan masa kini; budaya Barat dan Timur, serta nuansa baru dan orna men tradisional menjelma keunikan sendiri yang dimiliki masjid ini. “Yang jauh lebih penting adalah masjid ini sengaja dirancang untuk menghadirkan kekhusyukan bagi setiap jamaah yang menunaikan ibadah pada dalamnya, ” kata perempuan dengan juga berprofesi sebagai dosen di Istanbul Bilgi University itu.