Presiden Azerbaijan: Armenia Hina Perasaan Semua Muslim

Presiden Azerbaijan: Armenia Hina Perasaan Semua Muslim

Presiden Azerbaijan menyebut Armenia lukai perasaan umat Islam

REPUBLIKA. CO. ID, YEREVAN – Armenia menghina perasaan tidak hanya orang Azerbaijan, akan tetapi semua umat Muslim di dunia. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Republik Azerbaijan, Ilham Aliyev, saat menerima mandat dari Caraka Besar Afghanistan Amanullah Jayhoon yang baru diangkat.

“Semua kota dan desa saya hancur, semua monumen sejarah saya hancur, monumen budaya kami sudah dihancurkan sepenuhnya, masjid kami telah dihancurkan atau mereka menggunakannya sebagai tempat untuk memelihara hewan, secara demikian, menghina perasaan tidak hanya orang Azerbaijan tetapi semua Muslim di dunia, ” kata Aliyev dilansir dari laman Trend , pada Jumat (18/12).  

Aliyev mengungkapan, semua Muslim di dunia yang melihat foto-foto dan video-video itu, akan memahami betapa jahatnya kejadian yang mereka hadapi selama bertahun-tahun. Di samping itu serupa orang-orang juga dapat melihat perolehan yang telah mereka buat membebaskan wilayahnya, membebaskan tanah, & kembali ke akar mereka.    

“Armenia, seperti yang Anda ketahui, cukup berupaya untuk memperkuat atau di dalam beberapa kasus menciptakan hubungan dengan negara-negara Muslim. Tetapi saya yakin bahwa semua Muslim di negeri yang melihat gambar-gambar video tersebut akan mengirimkan pesan yang sangat kuat kepada pemerintah mereka untuk menahan diri dari kontak apapun dengan negara yang menghancurkan masjid, yang memelihara babi di masjid, dan yang menumbuhkan Islamofobia, ” paparnya.  

“Mungkin tersedia kepentingan politik, mungkin ada kira-kira atau kepentingannya tapi saya pikir semua Muslim di dunia harus menyatukan suara mereka dan mengantarkan pesan yang kuat kepada penyerbu bahwa apa yang telah mereka lakukan tidak dapat diterima serta tidak akan dilupakan Muslim, ” lanjut dia.

Hubungan kurun bekas republik Soviet Azerbaijan dan Armenia tegang sejak 1991, kala militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, serupa dikenal sebagai Karabakh Atas, suatu wilayah yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh daerah yang berdekatan.

Bentrokan segar meletus 27 September dan tentara Armenia terus menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan, bahkan melanggar perjanjian gencatan senjata kemanusiaan selama 44 hari. Baku membebaskan beberapa kota dan hampir 300 kawasan dan desa dari pendudukan Armenia selama ini.

Pada 10 November, kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia untuk menutup pertempuran dan bekerja menuju putusan yang komprehensif. Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan Azerbaijan dan keruntuhan Armenia.

Di samping itu, Penduduk Aghdam, yang diduduki Armenia selama 27 tahun, mengatakan kalau kota itu menjadi hancur semasa pendudukan. Di Aghdam, tempat prajurit Armenia mundur pada 20 November, hampir tidak ada bangunan dengan berdiri utuh. Sekitar 143 seperseribu orang Azerbaijan pernah tinggal pada kota itu, tetapi sekarang praja itu hanya tinggal jalan-jalan tak terawat dan bangunan hancur.  

Masjid dua menara dengan dibangun pada abad ke-19 adalah satu-satunya bangunan yang struktur utamanya masih utuh. Namun kondisinya benar memprihatinkan dan terabaikan. Penghancuran oleh Armenia di Aghdam selama pendudukan digambarkan pers asing sebagai “Hiroshima di Kaukasia”.

Sumber:     https://en.trend.az/azerbaijan/politics/3351610.html