Pengungkit Kinerja, BPD Andalkan Tabungan Simpeda Tiap Daerah

Pengungkit Kinerja, BPD Andalkan Tabungan Simpeda Tiap Daerah

Dana Simpeda sudah berusia 31 tahun.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencari jalan menunjukkan kinerja yang cukup istimewa di tengah pandemi Covid-19. Satu diantara langkah yang dilakukan melalui Dana Simpeda pada masing-masing daerah.

Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Supriyatno mengatakan Tabungan Simpeda sudah berusia 31 tahun dan salah satu produk pemersatu BPD seluruh Indonesia. Dana Simpeda juga sebagai produk penghimpunan dana masyarakat.

“Dalam perkembanganya Tabungan Simpeda terus merasai peningkatan. Di tengah-tengah situasi yang belum benar-benar pulih, kita sedang bisa melaksanakan Penarikan Undian Nasional Tabungan Simpeda BPDSI, meskipun kita laksanakan secara daring melalui media elektronik, ” ujarnya kepada wartawan, Rabu (9/9).

Menurutnya Penarikan Undian Simpeda Periode pertama Tahun XXXI – 2020 dalam Jakarta memiliki jumlah penabung sebanyak 7. 209. 314 penabung dengan jumlah saldo Simpeda sebesar Rp 56, 10 triliun hingga Juni 2020. Apabila dilihat dari penarikan undian Simpeda pada Agustus 2019 di Bali dan Jakarta, sejak sisi penabung terjadi kenaikan sejumlah 7, 06 persen atau terangkat 475. 654 penabung, sedangkan saldo Simpeda meningkat 2, 32 persen atau naik sebesar Rp 1, 27 triliun.
 
“BPD yang paling banyak menahan Tabungan Simpeda sejak lebih sejak 10 tahun terakhir, yaitu Bank Jatim, sampai dengan posisi Juni 2020 telah menghimpun Simpeda sekitar Rp 13, 44 triliun ataupun sebesar 23, 96 persen lantaran Tabungan Simpeda Nasional, ” ucapnya.

Undian Nasional Tabungan Simpeda yang dikemas dalam perkara Panen Rejeki bank BPD menyajikan total hadiah sebesar Rp 3 Miliar untuk 584 nasabah Simpanan Simpeda seluruh Indonesia. Dalam Pengetaman Rejeki Bank BPD hadiah pokok Rp 500 juta dimenangkan oleh nasabah Bank Kalsel, kemudian imbalan kedua masing-masing Rp 100 juta untuk empat pemenang dimenangkan sebab nasabah Bank BPD Bali, Bank DKI, Bank BPD DIY, & Bank Nagari.

Selain itu, Supriyatno menyebut posisi strategis BPD dengan mempercepat kemajuan perekonomian dan pembangunan daerah melalui kegiatan usahanya, baik sebagai penghimpun dana masyarakat maupun dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat.

“Saat ini, jumlah BPD seluruhnya ada 27 Bank, dengan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten, Pemerintah Kawasan Kota, dan ada juga dimiliki oleh Investor Strategis. Sedangkan BPD yang sudah dimiliki oleh Terbuka ada 2 BPD Bank bjb dan Bank Jatim, melalui IPO (Initial Public Offering), ” ucapnya.

Menurutnya jumlah jaringan kantor konvensional dan kas mobil BPD sampai dengan Desember 2019 berjumlah 7. 389 jaringan, dengan tersebar sampai ke pelosok makin sampai ke perbatasan dengan negeri lain.

Dari sisi jumlah Bank Umum Syariah (BUS) sebanyak 3 bank dan Unit Usaha Syariah BPD sebanyak 13 bank. Namun untuk jumlah Pegawai BPD, sebab pegawai tetap dan pegawai persetujuan sampai dengan Desember 2020 berjumlah 66. 126 pegawai.

Per Desember 2019, aset BPD sebesar Rp 718, 19 triliun atau meningkat sebesar 10, 05 persen dibandingkan posisi Desember 2018 sebesar Rp 652, 63 triliun.

“Kekuatan aset BPD seluruh Indonesia menunjukkan apabila BPD seluruh Indonesia bersinergi akan menjelma potensi kekuatan yang solid dalam kancah persaingan industri perbankan nasional serta dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi perekonomian nasional, khususnya di daerah, ” ucapnya.

Per Desember 2019, posisi kredit BPD sebesar Rp 467, 92 triliun atau menyusun 11, 987 persen dibandingkan situasi Desember 2018 sebesar Rp 417, 85 triliun. Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 530, 78 triliun atau meningkat 14, 20 persen dibanding posisi Desember 2018 sebesar Rp 464, 76 triliun.

“DPK berawal dari Pemda sebesar 18, 68 persen, artinya DPK BPD sebesar 81, 32 persen berasal dibanding dana masyarakat. Jadi BPD kita ini sudah lebih banyak menahan dana dari masyarakat ketimbang sokongan dari Pemda kita sendiri, ” ucapnya.

Per Desember 2019, BPD terbagi menjadi 3 BUKU (Bank Umum dengan Kesibukan Usaha), yaitu: BUKU 1 berjumlah empat BPD, BUKU 2 berjumlah 19 BPD, dan BUKU 3 sebanyak empat BPD.