Mengapa Arab Saudi Sukses Terapkan Nilai Tukar Tetap?

Mengapa Arab Saudi Sukses Terapkan Nilai Tukar Tetap?

Arab Saudi sudah lama menerapkan kecendekiaan nilai tukar tetap riyal untuk dolar AS.

REPUBLIKA. CO. ID — Oleh Talat Zaki Hafiz*

Otoritas Moneter Arab Saudi (SAMA) baru-baru itu menegaskan kembali komitmennya terhadap kebijaksanaan nilai tukar tetap dengan mematok riyal Arab Saudi atas dolar AS sebagai pilihan strategis.  

Ini membuktikan bahwa kebijakan patok mata kekayaan ini mendukung pertumbuhan ekonomi nasional Arab Saudi selama lebih dibanding tiga dekade. Selain itu, menjaga nilai tukar resmi 3, 75 riyal terhadap dolar AS menjadijangkar stabilitas moneter dan keuangan.

SAMA pula mengatakan cadangan devisa Kerajaan tetap memadai untuk memenuhi semua seruan ekonomi nasional dan mencakup 43 bulan impor dan 88 persen.

Bisa disimpulkan, keputusan pemerintah melanjutkan kebijakannya mematok mata uangnya ke greenback dengan nilai tukar tetap tak didasarkan pada pemikiran emosional semata-mata. Ini melainkan dilakukan karena kepentingan strategis nasional.

Mematok nilai tukar tentu atas dolar AS juga cara untuk kegiatan perdagangan komersial dengan lebih luas di negara ini. Nilai tukar tetap menstabilkan imbalan valuta asing yang diperlukan buat semua jenis perdagangan.

Ini pada gilirannya memungkinkan bisnis lebih menguntungkan serta berjalan baik karena menghemat penuh uang. Tak ada fluktuasi kadar tukar.

Faktanya tetap bahwa sebagian tumbuh cadangan devisa Kerajaan Arab Saudi berbasis pada dolar dan –berdasarkan data Dana Moneter Internasional– dolar AS membentuk sekitar 62 obat jerih dari semua cadangan devisa bank sentral di seluruh dunia.

Akhirnya, secara mengusahakan kebijakan tegas untuk menetapkan mata uangnya terhadap dolar dan memperbaiki nilai tukar, Kerajaan tak hanya menjaga stabilitas keuangan dan moneter, tetapi juga mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan & mengendalikan inflasi.

Ini sangat penting karena sebagian besar arus kas mengakar dan keluar pemerintah didasarkan pada dolar atau dinilai oleh dolar AS.

Di masa lalu, periode pelemahan dolar telah menimbulkan keberatan terhadap kebijakan nilai tukar tetap oleh beberapa ekonom, karena dampak minus terkait pada kekuatan mata kekayaan Saudi.

Tapi itu mengabaikan banyak manfaat yang diberikan patok uang itu selama beberapa dekade. Faktanya tentu bahwa sebagian besar cadangan devisa Kerajaan berbasis pada dolar.

Selain tersebut, sekitar 90 persen perdagangan valas melibatkan dolar AS, sementara dekat 40 persen utang dunia diterbitkan dalam dolar.

*Talat Zaki Hafiz merupakan seorang ekonom dan analis keuangan di Arab Saudi. Ia mencatat untuk Arabnews.

https://www.arabnews.com/node/1682011

sumber: Arabnews