Langgar Al Riyadh Kwitang, Salah Utama Masjid Tua di Jakarta

Langgar Al Riyadh Kwitang, Salah Utama Masjid Tua di Jakarta

Salah satu masjid usang di Jakarta adalah Masjid Al Riyadh Kwitang.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Masjid Al Riyadh Kwitang merupakan salah satu langgar tertua di Jakarta dan berperan penting dalam penyebaran Islam.

Masjid ini didirikan oleh Habib Ali bin Abdurahman dalam tahun 1911. Sebelumnya, masjid ini masih berupa surau. Awalnya tanda masjid tersebut adalah Masjid Al Makmur, namun kemudian masjid itu dibangun kembali dengan inisiatif sebab tokoh di Kwitang pada tahun 1938.

Saat direnovasi ketiga kalinya pada tahun 1963, Presiden Soekarno berjanji untuk menganjurkan nama baru untuk masjid dengan dikenal dengan nama Masjid Kwitang ini. Akan tetapi, situasi poltiik saat itu kurang memungkinkan.

“Kemudian rezim Orde Lama jadi Orde Baru, oleh Kekasih Ali diberikan nama Al Riyadh, ” jelas Ketua Pengurus Masjid Al Riyadh, Ustaz Nurdin Abdurrahman kepada Republika belum lama ini.

Sejak masih muda, Buah hati Ali telah mengajar agama ke berbagai daerah di ibukota. Habib Ali merupakan ahli di tempat tafsir, tasawuf, fikih dan tarikh. Ketika beliau sudah berusia bertambah tua, barulah ia berhenti keliling daerah dan fokus mengajar pada rumah serta Masjid Al Riyadh.

“Setelah itu di masjid diadakan taklim rutin, buat mengajar berbagai disiplin ilmu, ” kata Ustaz Nurdin.

Habib Ali wafat pada tarikh 1968 dalam usia 102 tarikh. Atas anjuran pemerintah saat tersebut dan untuk menghormati beliau berasaskan jasa-jasanya, ia dimakamkan di pelik masjid. Habib Muhammad yang menggantikannya juga kemudian dimakamkan disana.

Hingga kini kedua makam pendiri masjid dan penyebar petunjuk Islam di DKI Jakarta itu masih sering dikunjungi oleh para-para peziarah dari seluruh Indonesia. Para-para peziarah tidak henti-hentinya memanjatkan doa setiap berziarah ke kedua makam tersebut.