Kejenakaan dalam Kenangan

Teguh Esha ialah penulis Ali Topan Bani Jalan wafat pada Senin akibat Covid-19

REPUBLIKA. CO. ID,   Oleh Dewi Mardiani /Wartawan Republika

Kabar di grup penerapan WhatsApp pada Senin (17/5) siang menyampaikan tentang membuktikan wafatnya seorang wartawan serta sastrawan, Teguh Esha pada pagi harinya. Disampaikan kalau pemakamannya menggunakan protokol kesehatan.

Kaget tentunya yang saya rasakan. Dia, yang sering saya sapa dengan sebutan Mas Taat, adalah seorang teman cantik yang saya kenal sejak sepuluh tahun yang morat-marit.  

Perkenalan pertama kami memang minus rencana di tahun 2011. Pertemuan yang tak disengaja di Bulungan, Kebayoran Segar, Jakarta Selatan.  

Di suatu burit di tahun itu, beta ada janji bertemu secara seorang sahabat satu SMP. Maya menjemput saya pada kantor di Republika. Di dalam perjalanan, dia sampaikan kalau ada janji juga dengan temannya yang lain, Haris Jauhari, seorang tokoh jalan yang belum pernah beta dengar namanya saat tersebut.  

Kesudahannya, saya setuju ikut. Sampailah kami di suatu wadah arena kumpul-kumpul di Kawasan Bulungan. Di sana, aku diperkenalkan dengan Bang Haris, seorang  pekerja media elektronik swasta, dan seorang lelaki paruh baya yang lalu diperkenalkan dengan nama Teguh Esha. “Ini dia dengan nulis tentang Ali Topan, Wi. Orang terkenal lho dia itu, ” sekapur Bang Haris saat menghadirkan Mas Teguh kepada hamba.  

Mereka bertiga saat itu tengah menikmati kopi di status kayu beranyaman rotan. Saya berdua pun bergabung dengan mereka dan berbincang-bincang sepi. “Dewi. Namanya seperti orangnya, ” ucap Mas Taat mengomentari nama saya. Hamba hanya tertawa mendengarnya.  

Tak berapa lama, kami pun akrab dalam berbincang, baik mengenai pekerjaan, dunia wartawan, maupun dalam keseharian. Mas Teguh pun banyak berkelakar perkara kerja jurnalistik. Pengalamannya dalam bidang media massa diceritakannya dengan jenaka.  

Rasa penasaran beta terpancing saat ingat perkara tulisannya dalam novel Ali Topan Anak Jalanan, yang kemudian diangkat menjadi titel film. Pemeran Ali Angin ribut di film itu merupakan Junaedi Salat di tarikh 1977. Film itu menunjukkan seorang lelaki pemberontak dengan pintar. Dasar cerita hidup itu mengambil dari rencana bersambung di Majalah Stop tahun 1972.  

“Kenapa Mas Teguh ambil ceritanya seperti tersebut? tanya saya penasaran?  

” Asyik ajah ambil cerita sejenis. Kan memang masanya anak-anak tahun 70-an seperti itu. Tuh, dia itu dengan jadi inspirasi Saya untuk tokoh Ali Topan, ” Kata Mas Teguh sambil menunjuk ke Bang Haris. Orang yang ditunjuk biar tertawa.  

“Apa benar begitu, Kakanda Haris? Memangnya dulu Kakak Haris motor-motoran? Ga kebayang ah seperti itu, ” komentar saya ke Kakanda Haris. Dia pun cuma tertawa lagi.  

Sambil tertawa terbahak-bahak, Mas Teguh pun membenarkan. “Kamu gak tau ajah. Dia tuh dulu ke mana-mana motor-motoran. Tapi orangnya pintar, baik. Makanya, hamba ambil jadi cerita untuk Ali Topan, ” sambung Mas Teguh.