Jaksel, Jaktim, Jakut Naik Status Siap Zona Merah Covid-19

Jaksel, Jaktim, Jakut Naik Status Siap Zona Merah Covid-19

Pekan lalu, hanya Jakarta Pusat dan Jakarta barat yang berkedudukan zona merah Covid-19.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Tiga daerah di DKI Jakarta, yakni Jakarta Selatan (Jaksel), Jakarta Timur (Jaktim), dan Jakarta Utara (Jakut) terangkat status dari zona oranye menjelma zona merah Covid-19. Zona merah adalah level tertinggi risiko penularan Covid-19, sementara zona oranye kepala level di bawahnya dengan efek sedang.

Pekan lalu, berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, hanya ada dua daerah pada ibu kota yang berstatus zona merah yaitu Jakarta Pusat serta Jakarta Barat. Sedangkan sisanya, tercatat Kabupaten Kepulauan Seribu, menyandang kehormatan zona oranye atau berisiko cukup.

Tren penambahan kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta memang terus menanjak sampai keadaan ini. Hari ini saja, ada penambahan kasus konfirmasi positif secara nasional sebanyak 1. 525 orang dalam 24 jam terakhir.

Dari angka penambahan keadaan ini, DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus pertama terbanyak yakni 467 orang. Menyusul kemudian Jawa Timur dengan 273 kasus, Jawa Tengah dengan 210 kasus, Sulawesi Selatan dengan 110 kasus, dan Bali dengan 61 kasus baru hari ini.

Di ibu kota, terlihat bahwa penambahan kasus harian justru secara konsisten terus menanjak dalam masa PSBB Transisi, dibanding semasa penerapan PSBB tahap I had III. Pada grafik yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 terlihat kalau sejak 8 Juli 2020, penambahan kasus harian di DKI Jakarta selalu di atas 200 orang setiap harinya. Padahal sebelumnya, penambahan kasus relatif masih lebih sedikit dari angka tersebut.

Jika dibedah lebih rinci, oleh karena itu tren kenaikan kasus harian pada DKI Jakarta semakin terlihat. Pra penerapan PSBB, jumlah kasus anyar harian relatif masih rendah secara angka di bawah 100 kasus per hari. Hanya saja, nilai kasus harian sempat melonjak mulia nyaris 200 orang pada 9 April 2020.

Beralih pada penerapan PSBB tahap I selama 10-24 April 2020, gaya penambahan kasus harian makin terlihat. Pada grafik terlihat bahwa kejadian baru setiap harinya bertambah nyaris menyentuh 100 orang. Kondisi itu cenderung bertahan sepanjang penerapan PSBB tahap II pada 25 April sampai 22 Mei dan PSBB tahap III pada 23 Mei sampai 4 Juni 2020.

Selama periode PSBB tahap II dan III, lonjakan kejadian tertinggi terjadi pada 13 Mei 2020 dengan 134 orang tentu Covid-10 pada hari itu. Setelah PSBB tahap III rampung, negeri provinsi pun melanjutkannya dengan PSBB transisi. Namun, ternyata penambahan kasus harian justru semakin tinggi.

Kembali dilihat pada grafik yang dirilis Gugus Tugas Nasional, terlihat jelas bahwa semakin ke sini angka penambahan kejadian semakin tinggi di ibu praja. Bila sebelumnya rata-rata penambahan kasus harian masih berada di mengencangkan 100-200, maka per 8 Juli angkanya konsisten di atas 200 orang setiap hari.

Semakin ke sini, malah angkanya melonjak di atas 300 kasus baru per hari. Seperti di 8 Juli dengan 344 peristiwa baru, 11 Juli dengan 359 kasus, 12 Juli dengan 404 kasus, 16 Juli dengan 312 kasus, 18 Juli dengan 331 kasus, 19 Juli dengan 313 kasus, 20 Juli dengan 361 kasus, 21 Juli dengan 441 kasus, 22 Juli dengan 392 kasus baru, dan 27 Juli ini dengan 467 orang.

Sedikit berbeda dengan keterangan miliki pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hari itu mengumumkan jumlah kasus baru meyakinkan Covid-19 sebanyak 473 kasus. Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menerangkan, angka 473 kejadian merupakan akumulasi, terdiri dari 240 kasus dari tanggal 26 Juli 2020 dan 233 kasus sebab tanggal 25 Juli 2020.

Adapun, jumlah kumulatif peristiwa konfirmasi di wilayah DKI Jakarta pada hari ini sebanyak 19. 474 kasus. Dari jumlah itu, 11. 997 orang dinyatakan sudah sembuh, sedangkan 782 orang wafat dunia.

Sampai secara hari ini dilaporkan, 1. 702 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 4. 993 orang melakukan isolasi mandiri. Total itu sudah termasuk data mereka yang diisolasi di Wisma Atlet.

“Untuk suspek dengan masih menjalani isolasi mandiri sebesar 1. 472 orang, sedangkan suspek yang masih menjalani isolasi di RS sebanyak 1. 563 orang, dan yang meninggal sebanyak dua. 226 orang, ” paparnya, Senin (27/7).