Jabar Reorientasi Ekonomi pada 7 Sektor Setelah Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, pemberlakuan PPKM sangat berpengaruh pada ekonomi Jabar dengan ditutupnya banyak tempat usaha.  

Oleh karena itu, menurut Ridwan Kamil, pascacovid Jabar melakukan reorientasi ekonomi yang akan menjadi arah baru. Menurutnya, ada tujuh ekonomi baru Jabar. Pertama, mengambil peran terdepan dalam menyerap investasi Tiongkok.

“Post Covid, saya ingin Jabar jadi juara 1 Asean untuk investadi sehubungan bedol desa dari Tiongkok,” ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil, di acara Kick Off West Java Economic Society 2021 BI Jawa Barat-ISEI  Meluncurkan Regional Economist Forum (REF) Jabar ’76 Ekonom Jabar Bicara’, Senin (23/8).

Kedua, kata Emil, mendorong kedaulatan pangan. Jabar, ingin ada kedaulatan pangan jadi sedang menyisir tanah-tanah yang menganggur untuk program petani milenial.

Ketiga, kata dia, membangun ekonomi kesehatan agar kuat menghadapi pandemi selanjutnya. Sebagai benteng pertahanan kesehatan, Jabar membutuhkan sekitar 20 sampai 30 Rumah Sakit (RS) baru.

Keempat, kata dia, menggeser manufaktur yang bersifat manual ke 4.0. Banyak yang memperkirakan akibat 4.0 ini akan hilang 80 juta pekerjaan tapi akan lahir juga 100 juta pekerjaan baru. 

“Makanya jangan kaget kalau di Jabar nanti ada SMK dengan kurikulum Samsung atau Shopee,” katanya.

Kelima, kata dia, Pemprov Jabar akan melakukan revolusi ekonomi digital. Jadi, setiap desa akan dibekali laptop untuk produktivitas. Keenam, Jabar akan menggenjot ekonomi hijau. Terakhir, Jabar terus memajukan sektor pariwisata.

“Inovasi dan kolaborasi menjadi kunci penting, kami berharap masukan dalam banyak pihak,” katanya.  

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Herawanto mengatakan WJES merupakan wadah untuk berkontribusi dalam rangka mendorong kemajuan perekonomian Jabar. Kontribusi tersebut dilakukan melalui dua hal. Pertama memberikan berbagai advisory dan rekomendasi kebijakan aplikatif kepada pemerintah daerah dan stakeholders utama lainnya. 

Kedua, kata dia,  melalui berbagai keterlibatan langsung dalam berbagai bentuk dan level terhadap proyek pemberdayaan yang menyentuh langsung kehidupan perekonomian sektor riil dan masyarakat.

“Sinergi pentahelix WJES yang melibatkan para ekonom, akademisi, pelaku ekonomi dan praktisi bisnis bertujuan dapat menghasilkan berbagai bisnis model yang tidak hanya bersifat local community service (LCS) dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat namun juga membantu masyarakat  dan solusi bagi institusi bisnis dalam memperbaiki manajemen bisnisnya untuk membangun kemandirian ekonomi dan meningkatkan daya saing,” paparnya.

Menurutnya, dengan kompleksitas permasalahan ekonomi Jabar, berbagai bisnis model yang dihasilkan akan bisa menjadi percontohan tidak hanya dalam skala lokal. Tapi juga nasional dan global sehingga WJES mengangkat tagline #DariJabarUntukIndonesia dan #DariJabarUntukEkonomi Global.

Herawanto mengatakan, BI Jabar bersama ISEI Cabang Bandung Koordinator Jabar meluncurkan Regional Economist Forum (REF) Jabar. REF Jabar lahir sebagai forum sinergi dan kolaborasi pentahelix untuk memperoleh beragam pemikiran dari para ekonom dan akademisi, khususnya di bidang bisnis yang memiliki fokus dan perhatian terhadap berbagai isu pembangunan ekonomi Jabar. 

“Menyambut momentum Kemerdekaan RI sekaligus Ulang Tahun Jawa Barat ke-76, langkah awal REF Jabar 2021 diwujudkan dalam 76 Ekonom Jabar Bicara yang akan berupaya berbagai kontribusi pemikiran pengembangan industri manufaktur, pariwisata, pertanian, digitalisasi proses bisnis, investasi, pembiayaan, kebijakan pemberdayaan UMKM, hingga penyelarasan pembangunan Jabar Utara dan Selatan di samping isu lainnya,” paparnya.

Selain REF Jabar, di kick off WJES 2021 juga disampaikan pernyataan Komitmen Kampus Mendukung Digitalisasi. Perguruan tinggi yang sudah menyatakan komitmen untuk mendukung digitalitasi ekonomi terdiri dari 23 Perguruan Tinggi besar di Provinsi Jawa Barat dan terus akan bertambah kedepan. 

Ketua ISEI Cabang Bandung Koordinator Jabar Aldrin Herwany mengatakan pada tahun kedua, program WJES lebih implementatif dan aplikatif yang bermanfaat untuk pemerintah setempat sampai dengan tingkatan masyarakat level akar rumput. 

Menurutnya, ada tiga program yang dilaksanakan, yakni Riset dan Kajian Pembangunan Regional (Regional Development Research), Penyusunan Bisnis Model, Proyek Riil dan Pengabdian Kepada Masyarakat, serta Publikasi dan Diseminasi Hasil Riset, Kajian dan Program Kegiatan Sektor Riil serta LCS.

Riset yang tengah dikerjakan, menurut Aldrin, adalah mengenai Sembilan prioritas pembangunan provinsi Jawa Barat tahun 2021 melalui Pengembangan Wilayah Metropolitan Rebana. Dehingga mampu teridentifikasi sektor utama serta sektor pendukung di wilayah kabupaten/kota.  

“Ada juga riset tentang Peta Dampak Pandemi terhadap Industri Manufaktur Jabar dan Solusinya untuk identifikasi industri terpilih dan industri pendukungnya di Jawa Barat,” katanya. 

Diharapkan, kata dia, penelitian tersebut akan menghasilkan rumusan strategi dan rekomendasi arah kebijakan bagi pemerintah provinsi Jabar. 

Terkait penyusunan bisnis model, proyek riil dan pengabdian kepada masyarakat, Aldrin mengatakan, WJES akan melakukan dua pelatihan pada bulan September 2021. Yakni pelatihan pemasaran digital bagi 1000-an peserta pengusaha kecil dan mikro pemula di Jabar sebagai target untuk menambah jumlah pengusaha yang melek digital (Literasi Digital).

Serta, kata dia, pelatihan transaksi pembayaran digital sekaligus praktek bertransaksi serta marketplace bagi pengusaha kecil dan mikro.

Selain itu, kata dia, percepatan pemanfaatan luas dari infrastruktur sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang sudah dipersiapkan oleh Bank Indonesia juga menjadi salah satu pilihan yang dapat dimanfaatkan oleh merchant-merchant. Bahkan, sektor pendidikan dalam hal ini kampus-kampus di Jabar.