Diprediksi PPP Karam, Gatot dan Isyarat Bisa Jadi Penyelamat

Diprediksi PPP Karam, Gatot dan Isyarat Bisa Jadi Penyelamat

Tanpa figur yang berpengaruh PPP akan jadi kapal primitif yang karam.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Peneliti senior Golongan Survei Indonesia (LSI) Network Denny JA, Toto Izul Fatah mengecap, dua tokoh nasional yaitu Gatot Nurmantyo (GN) dan Sandiaga Salahudin Uno (SSU) sangat potensial menjelma magnet publik, yang dapat mengantar Partai Persatuan Pembangun (PPP) kembali bangkit sebagai parpol besar. Bila tak ada, PPP hanya akan menjadi kapal tua yang  sebentar lagi karam.

Menurut Toto, yang juga Penasihat Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA ini, pilihan paling penting dalam menghadapi pertarungan Pileg 2024, PPP harus mampu mencari figur ketua umum yang memiliki magnet publik yang kuat. Aneka rencana dan sistem organisasi yang ditawarkan partai Islam tersebut tak akan banyak membawa efek electoral bila tak ada figur  moncer sebagai leader .

“Meskipun program penting, akan tetapi yang tak kalah penting dibutuhkan PPP saat ini adalah figur. Rentetan kasus hukum yang telah menyeret beberapa ketua umumnya mendalam penjara, membuat PPP kehilangan pengesahan moral untuk jualan program sebagai daya tarik partai. ” sebutan Toto, dalam siaran persnya,   Jumat (21/8).

Perlunya figur kuat di PPP, kata pendahuluan Toto, karena partai tersebut menetapkan kelompok Islam sebagai captive market yang turun temurun sejak Orde Perdana. Sementara ceruk yang sama, saat ini sudah diambil merata partai berbasis Islam lainnya seperti PAN, PKS dan PKB.

Idealnya, lanjut dia, kekuasaan bisa seperti Golkar yang tidak bersandar pada figur ketua umum. Sebab punya sistem yang relatif kokoh dengan cengkraman kuku birokrasi kewenangan yang kuat dan merata.   “Namun, untuk PPP dalam kontek hari ini sangat rawan nasibnya jika tak segera memiliki figur yang  punya kapasitas personal dan bermagnet  electoral, ” tegasnya.

Dalam pengamatan Toto, sampai saat ini belum ada figur internal yang punya daya mengerek electoral partai ini. Melainkan harus membuka peluang masuknya bentuk dari luar partai yang dalam PPP-kan. “Sejauh ini, hanya Pak Gatot dan Pak Sandi yang memenuhi kriteria tersebut, baik dengan intelektual, moral, electoral dan modal social, ” tandasnya.

Namun, Toto mengakui kemungkinan adanya resistensi dari sebagian kelompok internal partai mengingat posisi kedua wujud saat ini. Yaitu, Sandi yang masih berada dalam struktur kepengurusan DPP Gerindra, dan Gatot yang belakangan telah memilih jalan “oposisi” sebagai satu diantara deklarator KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia).

“Ini memang pilihan pahit. Kalau bicara penyelamatan partai biar tidak makin terpuruk, dan bahkan karam,   suka atau tak, PPP butuh darah segar yang bisa memanggil pulang kandang balik para pemilih  tradisionilnya yang ideologis, tapi sekaligus membawa segmen pemilih baru, ” ujarnya.

Menurut Toto, kedua figur itu bukan saja mumpuni secara personal, tapi juga memiliki potensi kesesuaian ‘darah’ dengan PPP. Gatot misalnya, selain nasionalis sebagai mantan tentara,   juga dianggap agamis. Tersedia kombinasi dua hijau, yaitu hijau tentara dan hijau Islam. Sejenis juga dengan Sandi yang patuh data survei pernah menjadi penyumbang elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 lalu dengan segmen milenial dan emak-emak.

Karena itu, lanjutnya,   posisi Sandi sebagai ketum PPP nanti benar mungkin membawa dua segmen pemilih tadi, yaitu milenial dan emak-emak sebagai pasar baru PPP. Isyarat juga dinilai sebagai sosok santun yang sangat mungkin diterima para-para stakeholder yang selama ini menjadi simpul  penting di partai, sesuai para ulama, kiayi dan ustad. Termasuk, Sandi juga bisa menjelma figur tengah dari lima ikatan yang berfusi di partai tersebut. Yaitu, NU, MI, Parmusi, Perti dan SI.