Tri Mumpuni, dari Adzan hingga Penyungguhan Dunia

 Tri Mumpuni, dari Adzan hingga Penyungguhan Dunia

Tokoh Perubahan Republika 2009 masuk 22 ilmuwan Muslim paling berpengaruh.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Pada Ahad (20/12) Presiden Jokowi melansir gambar di akun Twitter-nya menjelang Hari Ibu dengan menyampaikan hasil dua ilmuan Indonesia. Di antaranya Adi Utarini dan Tri Cakap.  

Prof Adi Utarini menghunjam daftar “Nature’s 10: Ten People Who Helped Shape Science in 2020” dari jurnal sains Nature. Sedangkan Tri Mumpuni masuk pada 22 Most Influential Muslim Scientists dalam daftar “the 500 Most Influential Muslims, Royal Islamic Strategic Studies Centre.

Tri Mumpuni sebelumnya telah menyabet juga penghargaan Arsitek Perubahan Republika 2009. Juri zaman itu memilih perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah 56 tahun  awut-awutan itu sebagai pekerja ekonomi anak buah kecil dan pedalaman, menjadi aktivis perubahan 2009.

Ia benar-benar ‘mumpuni’ dalam memberdayakan dan ‘menerangi’ masyarakat pedalaman. Bersama-sama sang suami, Iskandar Budisaroso, ia berkeliling ke ratusan daerah dalam Negeri demi membangun pembangkit mikrohidro yang melibatkan unsur-unsur masyarakat biar mereka juga bisa menikmati terangnya listrik.

Apa yang menjadi ispirasi alumni Institut Pertanian Bogor itu? Pada 2015, dia sempat berkisah bahwa perjalanannya dimulai dari keluhan seorang ibu dengan ia temui.  

Keinginan seorang ibu menggetarkan berkorban Tri Mumpuni. Sang ibu cuma punya satu keinginan yang terkesan sederhana, namun ternyata tidak biasa untuk diwujudkan. “Ibu itu mau agar suara adzan dari langgar bisa terdengar hingga ke rumahnya, ” ujar Tri saat itu.

Masalahnya, pandangan adzan itu tidak akan pernah sampai bila tak ada jalan listrik yang masuk ke dukuh sang ibu. Dan, sejak itulah dia pun bertekad agar elektrik bisa masuk ke semua daerah di Indonesia.

Terlebih, ia sering melihat desa-desa yang penuh dengan sumber minuman melimpah, namun tidak memiliki kabel distribusi listrik. Hal ini membuat masyarakat di sana tidak bisa melakukan aktivitas seperti kita dengan mungkin dengan mudah menikmati elektrik, terutama untuk penerangan di malam hari.

Dengan kemampuannya, dia pun mengembangkan penyemangat listrik tenaga mikrohidro. Hasilnya, hingga kini sudah 82 desa terpencil di Indonesia yang mendapatkan manfaat sumber daya ini.

 

Bagi Tri, melihat banyaknya orang yang bersenang hati merasakan manfaat listrik di wilayah-wilayah terpencil merupakan kebahagiaan yang serupa amat berarti untuknya. Bahkan, ia mengungkapkan kebahagiaan dari banyak orang karena usahanya tak bisa dibeli dengan uang, berapa pun besarnya. “Banyak masyarakat yang desa serta rumahnya terang saat malam betul senang, bahkan tak sedikit dengan terharu berteriak ‘Allahu Akbar! ’ Saya sendiri sangat merinding dan dengan itu ingin terus melakukan kebaikan, lagi dan lagi, ” ungkap Tri.

Meski usaha ini tidak selalu berjalan mulus dan kadang menyongsong kendala-kendala, Tri tetap berupaya mewujudkan niat baiknya. Beberapa kesulitan dengan umum ditemuinya, yakni untuk datang ke lokasi, perjalanan darat dengan terkadang mengharuskan ia berjalan suku selama dua hari.

Penuh masyarakat yang desa dan rumahnya terang saat malam sangat suka, bahkan tak sedikit yang terharu berteriak ‘Allahu Akbar! ’

 

Tak hanya itu, ada pihak-pihak tertentu yang memandang sepotong mata proyek listrik yang ingin Tri lakukan. Tidak jarang, kutipan liar juga diminta oleh oknum aparat. “Tetapi, saya tetap, niat dan tujuan baik yang kita miliki memudahkan jalan kita. Terlebih, dengan keyakinan bahwa apa yang kita usahakan bisa membina hidup banyak diantara kita lainnya berarti, ” kata Tri.

Dengan kemampuannya, dia pun menggelar pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Hasilnya, hingga saat itu sudah 82 desa terpencil di Indonesia yang mendapatkan manfaat sumber daya itu.